Think Again – Tukang Pangkas Rambut Baru


 
Tepat setengah jam sebelum saya menulis cerita ini, saya tengah duduk di barbershop alias tempat pangkas rambut. Di sana saya hanya bisa menghela napas berulang-ulang karena melihat wajah Si Tukang Pangkas Rambut yang terlihat pucat. Sesekali ia menghapus keringatnya dengan lengannya. Saya? Masih menatapnya melalui cermin dengan wajah heran.
 
Saya sudah duduk di tempat itu selama kurang lebih satu jam, tapi belum terlihat ada perubahan yang signifikan dari rambut saya.
 
"Emm ... Segini cukup?", tanya Si Tukang Pangkas Rambut. Lamunan saya langsung buyar dan kembali menatapnya melalui cermin.
 
"Apa?"
 
"Segini udah cukup? Atau masih mau dipangkas lagi?", ulangnya. Saya terdiam, menatap rambut saya di cermin.
 
Tidak ada perubahan. Rambut saya masih sama seperti ketika saya datang ke tempat pangkas rambut ini.
 
"Mas, bisa di pendekin lagi gak? Kan tadi saya bilang di pendekin aja, kok masih panjang gini sih?"
 
"Oh iya iya ... Maaf ya, ini pertama kalinya saya mangkas rambut orang. Jadi, harap maklum kalo masih agak kaku.", ucapnya sembari sedikit senyum. Sayangnya, saya tidak tertarik untuk membalas senyumannya.
 
Ia kembali memangkas rambut saya dengan penuh kehati-hatian, dan rambut saya dipotong sedikit-sedikit.
 
"Segini cukup?"
 
"Ahm ... Dipendekin lagi bisa gak Mas? Ini masih gondrong."
 
Ia kembali mengambil gunting dan memangkas rambut saya, namun untuk kali ini tidak dipotong sedikit demi sedikit.
 
"Segini cukup?"
 
Saya melihat rambut saya melalui cermin. Aneh. Rambut yang terpangkas hanyalah bagian sisi kanan dan sisi kirinya saja.
 
"Mas, kok gini sih?", tanya saya.
 
"Ya kan emang laki-laki modelnya begini."
 
"Tapi ini kan model rambutnya orang-orang jalanan, saya bukan orang jalanan."
 
Akhirnya ia kembali memotong rambut saya. Singkat cerita, kurang lebih 15 menit kemudian akhirnya saya bisa keluar dari tempat pangkas rambut tersebut. Saya melihat langit sudah berubah warna menjadi kegelapan karena waktu sudah menjelang senja. Padahal, saya berangkat ke tempat pangkas rambut tersebut ketika cuaca masih cerah.
 
Sesampainya di rumah, saya menatap rambut saya melalui cermin. Kecewa, karena potongannya masih kurang pendek. Namun ... Tunggu .... Saya bergerak mendekat ke arah cermin, mendekat, mendekat ... Astaga!
 
Tahu apa yang terjadi pada rambut saya? Rambut sebelah kiri lebih pendek dari rambut sebelah kanan. Rambut sebelah kanan lebih pendek dari rambut belakang. Rambut belakang lebih pendek dari rambut bagian atas. Rambut bagian atas lebih pendek dari rambut bagian depan. RAMBUT MACAM APA INI!?
 
Memang, dari jarak sekian meter, kejanggalan ini tidak terlihat sama sekali. Tapi kalau dilihat dari dekat, rambut saya terlihat tidak simetris.
***
 
Secara tidak sadar, kehidupan kita dipenuhi dengan kerja sama. Bahkan rasanya tak mungkin ada kehidupan jika tidak ada kerjasama.
 
Kita bisa melihat matahari? Itu adalah hasil kerjasama antara matahari dan planet-planet lain. Kita bisa makan? Itu adalah hasil kerjasama kita dengan para pedagang makanan. Kita bisa menjadi orang yang pintar? Itu adalah hasil kerjasama kita dengan guru. Kita bisa terlahir di muka bumi ini? Itu adalah hasil kerjasama antara kedua orangtua kita. Semuanya membutuhkan kerjasama. Ya, semuanya.
 
Saya dan tukang pangkas rambut itu juga adalah sebuah kerjasama. Namun ini adalah kerjasama yang gagal, dimana salah satu pihak merasa dirugikan oleh pihak lain. Memang, dalam kerjasama, ada kalanya salah satu pihak merasa kurang puas dengan hasil yang didapat.
 
Sebuah pertanyaan mungkin muncul di benak kita adalah: mengapa hal tersebut bisa terjadi?
 
Ketika lahir, kita diajarkan cara bicara dan berjalan oleh orangtua kita. Dengan harapan, ketika dewasa nanti kita akan menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain dan akan membuat mereka bangga dengan keringat kita. Itu adalah sebuah kerjasama antara kita dengan orang tua kita.
 
Bayangkan, sejak lahir saja kita sudah belajar bekerjasama. Bukankah seharusnya sekarang kita sudah profesional dalam bekerjasama?
 
Kenyataannya masih saja ada orang dewasa yang bertengkar karena harta, masih ada orang dewasa yang bertengkar karena merasa nama baiknya dijatuhkan, masih ada atasan yang memarahi pekerjanya karena kurang gesit dalam mengejar deadline. Ya, ini adalah tanda bahwa kita belum profesional dalam bekerja sama.
 
Mengapa bisa begitu? Jawabannya hanya satu, yaitu: ketegasan.
 
Coba perhatikan, mengapa rambut saya jadi asimetris? Itu karena sebelum rambut saya dipangkas, saya tidak tegas mengatakan, "Saya ingin rambut saya pendek dan rapi kayak pelajar.".
 
Sekarang coba perhatikan, mengapa ada siswa yang membenci gurunya dan mengatakan bahwa gurunya kejam dan tidak kira-kira dalam memberi tugas?
 
Hal ini berawal dari promosi. Pihak sekolah tidak tegas mengatakan bahwa sekolah tersebut banyak tugas dan guru-gurunya nya malas mengajar. Mereka hanya mengatakan bahwa sekolah ini adalah sekolah bagus, terakreditasi tinggi, dan lulusannya hebat-hebat. Anak-anak yang terhipnotis akan langsung berebut masuk ke sekolah tersebut. Dan ketika berhasil masuk, mereka kaget dengan tugas yang terlampau banyak.
 
Lihat, lagi-lagi ini adalah masalah ketegasan. Salah satu pihak tidak tegas dalam berbicara, sehingga pihak yang lainnya ada yang merasa dirugikan. Miris, ketegasan dimanipulasi untuk kepentingan bisnis.
 
Cinta? Itu juga sebuah kerjasama.
 
Banyak orang yang berpacaran, namun kandas. Banyak orang menikah, baru beberapa bulan langsung cerai. Apa sumber masalahnya? Ketegasan.
 
Dalam menjalin hubungan, kita butuh ketegasan, baik ketegasan dari pasangan maupun dari diri kita sendiri. Semakin tegas, semakin kokoh hubungan yang terjalin.
 
Everything in our life need a teamwork. Segalanya membutuhkan kerjasama.
 
Kita sekolah dengan harapan memperoleh ilmu, namun kita harus mengorbankan uang kita. Kita melamar pekerjaan di sebuah perusahaan dengan harapan bisa mendapatkan uang, namun kita harus mengorbankan energi dan pikiran kita. Ya, kerjasama bukan sekadar mengerjakan sesuatu bersama orang lain. Kerjasama adalah keadaan ketika kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.
 
Belajarlah untuk bekerjasama dengan baik. Dan kunci dari sebuah kerjasama adalah ketegasan.
 
Jadi, apakah Anda sudah mampu bekerjasama dengan baik? Think Again.

0 comments:

Post a Comment

Ada tambahan? Atau ada sanggahan? Silakan utarakan :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Sumber Inspirasi. Theme images by AndrzejStajer. Powered by Blogger.