Think Again – Tukang Pangkas Rambut Baru


 
Tepat setengah jam sebelum saya menulis cerita ini, saya tengah duduk di barbershop alias tempat pangkas rambut. Di sana saya hanya bisa menghela napas berulang-ulang karena melihat wajah Si Tukang Pangkas Rambut yang terlihat pucat. Sesekali ia menghapus keringatnya dengan lengannya. Saya? Masih menatapnya melalui cermin dengan wajah heran.
 
Saya sudah duduk di tempat itu selama kurang lebih satu jam, tapi belum terlihat ada perubahan yang signifikan dari rambut saya.
 
"Emm ... Segini cukup?", tanya Si Tukang Pangkas Rambut. Lamunan saya langsung buyar dan kembali menatapnya melalui cermin.
 
"Apa?"
 
"Segini udah cukup? Atau masih mau dipangkas lagi?", ulangnya. Saya terdiam, menatap rambut saya di cermin.
 
Tidak ada perubahan. Rambut saya masih sama seperti ketika saya datang ke tempat pangkas rambut ini.
 
"Mas, bisa di pendekin lagi gak? Kan tadi saya bilang di pendekin aja, kok masih panjang gini sih?"
 
"Oh iya iya ... Maaf ya, ini pertama kalinya saya mangkas rambut orang. Jadi, harap maklum kalo masih agak kaku.", ucapnya sembari sedikit senyum. Sayangnya, saya tidak tertarik untuk membalas senyumannya.
 
Ia kembali memangkas rambut saya dengan penuh kehati-hatian, dan rambut saya dipotong sedikit-sedikit.
 
"Segini cukup?"
 
"Ahm ... Dipendekin lagi bisa gak Mas? Ini masih gondrong."
 
Ia kembali mengambil gunting dan memangkas rambut saya, namun untuk kali ini tidak dipotong sedikit demi sedikit.
 
"Segini cukup?"
 
Saya melihat rambut saya melalui cermin. Aneh. Rambut yang terpangkas hanyalah bagian sisi kanan dan sisi kirinya saja.
 
"Mas, kok gini sih?", tanya saya.
 
"Ya kan emang laki-laki modelnya begini."
 
"Tapi ini kan model rambutnya orang-orang jalanan, saya bukan orang jalanan."
 
Akhirnya ia kembali memotong rambut saya. Singkat cerita, kurang lebih 15 menit kemudian akhirnya saya bisa keluar dari tempat pangkas rambut tersebut. Saya melihat langit sudah berubah warna menjadi kegelapan karena waktu sudah menjelang senja. Padahal, saya berangkat ke tempat pangkas rambut tersebut ketika cuaca masih cerah.
 
Sesampainya di rumah, saya menatap rambut saya melalui cermin. Kecewa, karena potongannya masih kurang pendek. Namun ... Tunggu .... Saya bergerak mendekat ke arah cermin, mendekat, mendekat ... Astaga!
 
Tahu apa yang terjadi pada rambut saya? Rambut sebelah kiri lebih pendek dari rambut sebelah kanan. Rambut sebelah kanan lebih pendek dari rambut belakang. Rambut belakang lebih pendek dari rambut bagian atas. Rambut bagian atas lebih pendek dari rambut bagian depan. RAMBUT MACAM APA INI!?
 
Memang, dari jarak sekian meter, kejanggalan ini tidak terlihat sama sekali. Tapi kalau dilihat dari dekat, rambut saya terlihat tidak simetris.
***
 
Secara tidak sadar, kehidupan kita dipenuhi dengan kerja sama. Bahkan rasanya tak mungkin ada kehidupan jika tidak ada kerjasama.
 
Kita bisa melihat matahari? Itu adalah hasil kerjasama antara matahari dan planet-planet lain. Kita bisa makan? Itu adalah hasil kerjasama kita dengan para pedagang makanan. Kita bisa menjadi orang yang pintar? Itu adalah hasil kerjasama kita dengan guru. Kita bisa terlahir di muka bumi ini? Itu adalah hasil kerjasama antara kedua orangtua kita. Semuanya membutuhkan kerjasama. Ya, semuanya.
 
Saya dan tukang pangkas rambut itu juga adalah sebuah kerjasama. Namun ini adalah kerjasama yang gagal, dimana salah satu pihak merasa dirugikan oleh pihak lain. Memang, dalam kerjasama, ada kalanya salah satu pihak merasa kurang puas dengan hasil yang didapat.
 
Sebuah pertanyaan mungkin muncul di benak kita adalah: mengapa hal tersebut bisa terjadi?
 
Ketika lahir, kita diajarkan cara bicara dan berjalan oleh orangtua kita. Dengan harapan, ketika dewasa nanti kita akan menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain dan akan membuat mereka bangga dengan keringat kita. Itu adalah sebuah kerjasama antara kita dengan orang tua kita.
 
Bayangkan, sejak lahir saja kita sudah belajar bekerjasama. Bukankah seharusnya sekarang kita sudah profesional dalam bekerjasama?
 
Kenyataannya masih saja ada orang dewasa yang bertengkar karena harta, masih ada orang dewasa yang bertengkar karena merasa nama baiknya dijatuhkan, masih ada atasan yang memarahi pekerjanya karena kurang gesit dalam mengejar deadline. Ya, ini adalah tanda bahwa kita belum profesional dalam bekerja sama.
 
Mengapa bisa begitu? Jawabannya hanya satu, yaitu: ketegasan.
 
Coba perhatikan, mengapa rambut saya jadi asimetris? Itu karena sebelum rambut saya dipangkas, saya tidak tegas mengatakan, "Saya ingin rambut saya pendek dan rapi kayak pelajar.".
 
Sekarang coba perhatikan, mengapa ada siswa yang membenci gurunya dan mengatakan bahwa gurunya kejam dan tidak kira-kira dalam memberi tugas?
 
Hal ini berawal dari promosi. Pihak sekolah tidak tegas mengatakan bahwa sekolah tersebut banyak tugas dan guru-gurunya nya malas mengajar. Mereka hanya mengatakan bahwa sekolah ini adalah sekolah bagus, terakreditasi tinggi, dan lulusannya hebat-hebat. Anak-anak yang terhipnotis akan langsung berebut masuk ke sekolah tersebut. Dan ketika berhasil masuk, mereka kaget dengan tugas yang terlampau banyak.
 
Lihat, lagi-lagi ini adalah masalah ketegasan. Salah satu pihak tidak tegas dalam berbicara, sehingga pihak yang lainnya ada yang merasa dirugikan. Miris, ketegasan dimanipulasi untuk kepentingan bisnis.
 
Cinta? Itu juga sebuah kerjasama.
 
Banyak orang yang berpacaran, namun kandas. Banyak orang menikah, baru beberapa bulan langsung cerai. Apa sumber masalahnya? Ketegasan.
 
Dalam menjalin hubungan, kita butuh ketegasan, baik ketegasan dari pasangan maupun dari diri kita sendiri. Semakin tegas, semakin kokoh hubungan yang terjalin.
 
Everything in our life need a teamwork. Segalanya membutuhkan kerjasama.
 
Kita sekolah dengan harapan memperoleh ilmu, namun kita harus mengorbankan uang kita. Kita melamar pekerjaan di sebuah perusahaan dengan harapan bisa mendapatkan uang, namun kita harus mengorbankan energi dan pikiran kita. Ya, kerjasama bukan sekadar mengerjakan sesuatu bersama orang lain. Kerjasama adalah keadaan ketika kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.
 
Belajarlah untuk bekerjasama dengan baik. Dan kunci dari sebuah kerjasama adalah ketegasan.
 
Jadi, apakah Anda sudah mampu bekerjasama dengan baik? Think Again.
baca selengkapnya...

Mengapa Membeli Buku Lebih Baik daripada Meminjam Buku?


Membeli buku, dan meminjam buku. Keduanya adalah hal yang harus dipertimbangkan ketika Anda sedang kehabisan bacaan. Ketika dompet Anda sedang tidak begitu mendukung, mungkin Anda akan memilih untuk meminjam buku ke perpustakaan atau kepada rekan Anda. Namun ketika uang masih berjajar di saku dompet, mungkin Anda akan memilih untuk berangkat ke toko buku dan membeli buku-buku baru yang masih ‘segar’ dan nyaman untuk dibaca.
 
Dilema tersebut juga pernah dirasakan oleh saya. Saya sering berbelanja buku di toko buku bekas karena tabungan saya yang tengah menyusut. Namun setelah membaca sebuah artikel di suatu majalah, saya baru tahu, ternyata membeli buku bekas atau meminjam buku tidak dianjurkan secara medis. Apa sebabnya?
 
Buku, ternyata bisa menjadi perantara penyakit menular. Ternyata ada banyak sekali penyakit menular yang dapat ditularkan melalui serat-serat kertas.
 
Siapa yang menyangka bahwa pemilik awal buku tersebut adalah seorang penderita flu yang kerjaannya bersin setiap menit? Bayangkan berapa banyak bakteri yang bersarang pada kertas di buku itu setiap orang tersebut bersin.
 
Siapa yang menyangka bahwa pemilik awal buku tersebut adalah seorang penderita penyakit kulit menular yang bakterinya bisa berpindah ke buku ketika ia memegang buku?
 
Siapa yang menyangka bahwa pemilik awal buku tersebut adalah penderita hepatitis yang keringatnya menempel ke kertas-kertas di buku itu?
 
Dan siapa yang menyangka bahwa buku tersebut sudah dipegang oleh banyak orang dan kehigienisan tangan mereka tidak terjamin?
 
Intinya, berhati-hatilah ketika hendak meminjam buku atau membeli buku bekas. Tidak ada cara untuk membedakan buku mana yang sudah penuh bakteri dengan yang masih bersih. Satu-satunya tips yang bisa saya berikan adalah: berdoa.
 
 
Semoga bermanfaat!
baca selengkapnya...

Tips Agar Anak Senang Membaca Buku




Membaca buku sangat bermanfaat untuk pengembangan diri dan pengembangan kecerdasan anak. Oleh karena itu, kebiasaan membaca buku harus dipupuk sedini mungkin. Terkadang ada orang tua yang menganggap bahwa jika anaknya tidak suka membaca, berarti ... ya sudah, jangan dipaksa. Padahal, tidak seperti itu.
 
Meskipun anak tidak suka membaca buku, namun kita masih bisa untuk mengarahkannya agar anak senang membaca buku. Banyak orang bilang bahwa hal tersebut bukanlah perkara mudah, tetapi sekali lagi ... menurut saya, tidak sesulit yang dibayangkan.

Menularkan kebiasaan senang membaca pada anak-anak usia di bawah 10 tahun sebenarnya merupakan hal yang mudah jika Anda tahu trik-triknya. Lantas apa sajakah trik-trik agar anak senang membaca buku?
 
1. Berikan Buku yang Banyak Gambarnya
 
Anak-anak menyukai gambar dan warna. Oleh karena itu, berikan buku cerita yang ceritanya sederhana dan banyak gambarnya. Niscaya, anak akan menganggap bahwa membaca buku adalah hiburan.

2. Berikan Buku yang Sederhana

Jangan berikan buku yang ceritanya kesana kemari alias membingungkan. Carilah buku khusus anak-anak yang bukunya tipis dan ceritanya sangat sederhana. Hal tersebut berguna agar anak tahu bahwa setiap buku memiliki cerita dan makna yang menarik.
 
3. Beri Pujian

Setiap kali Anda melihat anak Anda membaca buku, pujilah. Tujuannya, agar anak tahu bahwa membaca buku adalah perilaku baik.
 
4. Tanya Pendapatnya Usai Membaca Satu Buku

Setiap menyelesaikan satu buah buku, tanyakan komentarnya seputar buku tersebut, lalu dengarkan ceritanya. Meskipun ceritanya tidak selaras dengan isi buku, pujilah. Tujuannya agar anak tetap termotivasi untuk membaca. Tetapi semakin dewasa, Anda harus bisa menyadarkan anak bahwa membaca buku harus diiringi dengan pemahaman isi buku.

5. Bacakan Buku Untuknya

Sisihkan waktu sekitar 10 -15 menit sebelum anak Anda tidur untuk membacakan buku untuknya. Dengan begitu, anak akan memiliki rasa penasaran yang tinggi tentang betapa menariknya isi dari sebuah buku. Tak lama, anak Anda pasti menyukai buku.

6. Jangan Dipaksa

Ingat, Anda tidak boleh memaksakan anak untuk membaca buku. Justru sebaliknya, Anda harus bisa membuat anak beranggapan bahwa membaca buku itu menyenangkan dan bisa menjadi hiburan.
 

Demikianlah artikel saya kali ini mengenai tips agar anak senang membaca buku. Semoga berhasil!
baca selengkapnya...

Tips Menularkan Kebiasaan Membaca Buku Pada Orang Lain




Katanya, menularkan kebiasaan baca buku pada orang lain itu jauh lebih sulit ketimbang membangun kebiasaan membaca buku. Menurut saya ... tidak juga.

Menularkan kebiasaan membaca buku bukanlah hal yang sulit. Asalkan kita tahu trik-triknya, orang-orang di sekitar kita bisa menjadi kutu buku. Lantas bagaimana trik-trik menularkan kebiasaan membaca buku?

4. Lakukan Bedah Buku

Jika Anda sering kumpul-kumpul bersama rekan-rekan Anda, tidak ada salahnya jika sesekali Anda melakukan bedah buku bersama rekan-rekan Anda tersebut. Bedah buku yang saya maksud bukanlah membedah buku dengan cara di sobek-sobek lalu di bongkar bukunya. Bedah buku yang saya maksud adalah memberikan testimoni tentang buku yang pernah Anda baca. Caranya? Mudah saja. Anda hanya tinggal berkata pada rekan Anda,

“Hei, kemarin saya baca buku ini, ceritanya seru loh.”

Setelah itu, mungkin akan ada berbagai pertanyaan yang dilontarkan rekan-rekan Anda. Jawablah. Percayalah, bedah buku dapat menambah rasa penasaran seseorang terhadap buku tersebut.

3. Beri Tahu Manfaat Membaca Buku

Ya, beri tahu mereka berbagai manfaat membaca buku. Hal tersebut dapat memotivasi seseorang untuk ikut rajin membaca buku.

2. Pinjamkan Buku

Meminjamkan buku juga secara tidak sengaja memaksa seseorang untuk menyukai buku. Sekali saja Anda merekomendasikan dan meminjamkan buku bagus pada seseorang, maka ketika mengembalikan buku, orang tersebut akan menanyakan,

“Apa ada buku semacam ini lagi? Pinjam dong ....”

1. Baca Buku di Tempat Umum

Tidak punya rekan yang bisa diajak baca buku? Anda tidak tahu apa manfaat membaca buku? Tenang saja, masih ada satu jurus rahasia lagi: baca buku di tempat umum. Ya, cara termudah untuk menularkan kebiasaan membaca buku adalah dengan cara membaca buku. Orang akan melihat Anda membaca buku, dan secara tidak sengaja, orang tersebut juga akan ikut penasaran dengan buku. Pada akhirnya, perlahan-lahan orang di sekitar Anda akan mengikuti kebiasaan Anda membaca buku. Sederhana, tapi manjur!


Demikianlah artikel saya kali ini mengenai tips-tips menularkan kebiasaan membaca buku pada orang lain. Semoga berhasil!
baca selengkapnya...

Hambatan-Hambatan dalam Membaca Buku dan Solusinya





Banyak teman-teman saya yang ingin rajin membaca buku. Tetapi ketika membacanya, baru sepuluh halaman saja sudah menyerah karena berbagai hal. Menurut saya hal ini pernah dirasakan semua orang, termasuk saya sendiri.

Memang, ketika melihat buku di rak toko buku atau di perpustakaan, kita acapkali tertarik untuk membacanya. Tetapi baru beberapa belas halaman saja, entah mengapa kita langsung bosan. Ilmunya belum sampai, ceritanya belum berkonflik, kita sudah tinggalkan bukunya. Padahal, seburuk apapun buku, pasti ada manfaatnya jika kita baca dan pahami hingga halaman akhir.

Lantas sebenarnya apa sajakah hambatan-hambatan yang kita terima ketika membaca buku? Dan bagaimana solusinya?

1. Malas

Malas adalah sifat manusiawi. Tetapi malas untuk melakukan hal yang bermanfaat adalah perilaku buruk. Apa penyebab munculnya rasa malas ketika membaca buku?

Penyebab 1: Anda belum terbiasa membaca buku. Anda belum tahu betapa menyenangkannya membaca buku dari halaman pertama hingga halaman akhir.

Solusi 1: Perjelas motivasi Anda. Misalnya, Anda membaca buku tentang manajemen bisnis dengan tujuan agar Anda bisa menjadi pengusaha kaya raya. Bayangkan dengan sangat jelas di benak Anda, betapa nikmatnya kehidupan Anda jika Anda sudah selesai membaca buku tersebut dan berhasil menjalani hidup sebagai pengusaha kaya raya.

Penyebab 2: Anda membaca buku dengan tema yang tidak Anda sukai.

Solusi 2: Jika tidak ada paksaan untuk membaca buku tersebut, tinggalkan buku itu! Carilah buku yang Anda sukai agar Anda dapat menikmati isinya.

2. Kurang Fokus

Anda baru saja selesai membaca buku, tetapi Anda belum mengerti dengan topik yang dibahas di dalamnya. Ada apa ini?

Penyebab 1: Anda membaca di lingkungan yang kurang kondusif. Misalnya, ruangan terlalu panas, ruangan terlalu berisik, kursi tidak nyaman, atau masalah-masalah lainnya.

Solusi 1: Pindah tempat. Cari tempat lain yang lebih kondusif agar Anda dapat membaca dengan tenang.

Penyebab 2: Anda terus memikirkan sesuatu yang menurut Anda lebih penting dari membaca buku. Misalnya: tugas kantor, dan lain-lain.

Solusi 2: Jika memang ada hal yang lebih penting, tinggalkan dulu buku yang tengah Anda baca. Lalu tuntaskan hal-hal yang harus Anda kerjakan. Sehingga ketika membaca buku nanti, pikiran Anda sudah tidak bercabang lagi.

3. Mengantuk

“Ketika saya mengerjakan aktivitas apapun, saya tidak mengantuk. Tetapi ketika membaca buku, saya pasti mengantuk. Kenapa ya?”

Begitulah sekiranya curhatan dari salah satu rekan saya. Sebenarnya, apa penyebab dan solusi munculnya rasa kantuk saat membaca?

Penyebab 1: Anda belum terbiasa membaca buku sehingga mata Anda mudah lelah.

Solusi 1: Sediakan air minum di dekat Anda. Teguklah air setiap beberapa menit sehingga fokus Anda tetap tinggi.

Penyebab 2: Anda membaca di ruangan yang terlalu terang. Atau mungkin Anda membaca terlalu dekat dengan lampu baca.

Solusi 2: Kurangi cahaya ruangan. Misalnya: jika sudah ada lampu ruangan, tidak perlu menggunakan lampu baca. Atau: jaga jarak antara buku dengan lampu baca.


Demikianlah artikel saya kali ini mengenai berbagai hambatan yang biasa kita temukan ketika membaca buku. Semoga bermanfaat!
baca selengkapnya...

Mengapa Membaca Buku Bisa Mencegah Kepikunan?




Pada artikel saya yang berjudul ‘8 Manfaat Membaca BukuNonfiksi’, ada satu pertanyaan yang muncul,

“Mengapa membaca buku dapat mencegah kepikunan? Apa hubungannya?”

Pertanyaan yang sama juga sempat saya lontarkan beberapa bulan yang lalu. Namun, setelah membaca beberapa buku tentang otak, akhirnya saya paham tentang korelasi antara membaca buku dengan otak kita. Dan sekarang, saya akan menjelaskannya kepada Anda.

Otak kita tersusun atas serabut-serabut yang bernama neuron. Neuron ini berfungsi untuk mengantarkan informasi yang akan keluar-masuk otak.

Ketika tidak ada informasi yang harus diantarkan, neuron ini akan melemah. Dan lama kelamaan, neuron ini akan putus satu persatu. Sebaliknya, ketika neuron ini disusupi banyak informasi, otak kita akan berpikir bahwa neuron harus ditambah lagi jumlahnya. Maka, akan dibentuk lagi jaringan-jaringan neuron yang baru.

Sekarang bayangkan, apa yang terjadi apabila jumlah neuron di otak Anda lebih sedikit ketimbang orang lain? Ya, Anda akan sulit menerima informasi, dan Anda akan sulit mengambil informasi dari otak (mengingat). Intinya, Anda mengalami kepikunan.

Sekarang bayangkan, apa yang terjadi apabila jumlah neuron di otak Anda lebih banyak ketimbang orang lain? Ya, Anda akan lebih mudah menerima informasi, dan Anda akan lebih mudah mengambil informasi dari otak (mengingat). Intinya, Anda mengalami peningkatan kemampuan otak.

Jadi, jika Anda ingin meningkatkan kemampuan otak Anda dan ingin mencegah kepikunan, apa yang harus Anda lakukan? Jaga agar neuron-neuron di otak Anda tidak putus setiap harinya. Bagaimana caranya? Masukkan informasi secara terus menerus ke dalam otak Anda. Salah satu caranya adalah membaca buku. Buku apa saja. Termasuk buku fiksi.

Sudah paham? Jika belum, silakan baca ulang artikel ini hingga benar-benar paham :D

Semoga bermanfaat!
baca selengkapnya...

8 Manfaat Membaca Buku Nonfiksi




Selain membaca buku fiksi, saya juga doyan membaca buku nonfiksi. Mungkin kebanyakan remaja lebih menyukai buku fiksi ketimbang nonfiksi. Alasannya sederhana: remaja tidak begitu menyukai sesuatu yang terlalu serius.

Memang, kalau saya perhatikan, saat sedang di toko buku, saya seringkali menjadi satu-satunya remaja yang nongkrong di rak buku nonfiksi. Rata-rata remaja seusia saya hobinya nongkrong di rak fiksi, atau di stand buku komik. Alasannya masih sama: remaja tidak begitu menyukai sesuatu yang terlalu serius.

Sebenarnya, buku nonfiksi tidak semuanya serius. Ada juga buku yang membahas tentang berbagai fakta dan teori serius tetapi dikemas dengan gaya bahasa yang menarik sehingga dapat dibaca oleh remaja. Di samping itu, membaca buku nonfiksi memiliki banyak manfaat. Apa sajakah manfaat-manfaat itu?

1. Mengisi Waktu Luang

Membaca buku nonfiksi dapat menjadi aktivitas pengisi waktu luang yang baik. Buku nonfiksi berisi banyak ilmu pengetahuan yang dapat membuka wawasan kita.

2. Sarana Pengembangan Diri

Dengan membaca buku nonfiksi, secara tidak sadar, cara berpikir Anda akan berubah menjadi lebih baik. Anda akan memulai gaya hidup sehat dan cerdas. Anda tidak akan doyan lagi melamun atau menyesali masa lalu. Anda akan menjadi pribadi baru yang lebih cerdas dalam menghadapi berbagai aspek kehidupan.

3. Mencegah Kepikunan

Membaca buku nonfiksi yang kaya akan ilmu pengetahuan juga akan membantu Anda mencegah kepikunan. Bagaimana penjelasannya secara medis dan psikologis?

Kalau ada waktu, akan saya buatkan artikelnya :D

4. Mencegah Alzheimer

Tidak berbeda jauh dengan kepikunan, alzheimer juga merupakan penyakit lupa. Namun, alzheimer biasanya disebabkan karena faktor penyakit, bukan faktor usia. Membaca buku nonfiksi ternyata dapat mencegah seseorang menderita alzheimer.

5. Menambah Konsentrasi

Tentu saja, buku nonfiksi biasanya mengajak kita untuk berpikir realistis. Hal ini juga dapat menjadi sarana melatih fokus dan konsentrasi.

6. Menambah Wawasan

Saya rasa poin ini tidak perlu dibahas terlalu panjang. Toh, sudah jelas bahwa buku nonfiksi berisi banyak ilmu pengetahuan yang membuat otak kita penuh dengan informasi. Semakin banyak buku nonfiksi yang Anda baca, maka semakin luas wawasan Anda.

7. Menambah Pemahaman Terhadap Sesuatu

Terkadang Anda masih kurang puas dengan ilmu yang Anda dapat di kampus atau saat mengikuti seminar. Tidak usah khawatir, Anda tinggal mencari buku nonfiksi yang membahas tentang hal yang sama, beres. Saya jamin, pemahaman Anda akan meningkat.

8. Melatih Kemampuan Berpikir

Buku nonfiksi berisi fakta-fakta dan teori-teori yang membuat pembacanya berpikir. Apabila dijadikan kebiasaan, membaca buku nonfiksi dapat membuat Anda lebih cerdas.


Itulah dia 8 poin tentang manfaat membaca buku nonfiksi. Jadi, rasanya membaca buku itu hukumnya wajib bagi orang yang ingin maju. Semoga bermanfaat!
baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Sumber Inspirasi. Theme images by AndrzejStajer. Powered by Blogger.