Asal Mula Kata “Duit”



Di Indonesia, banyak orang mengganti kata "uang" menjadi "duit". Tentu awalnya saya merasa biasa saja. Tapi saya sedikit bingung ketika membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ternyata, kata "duit" memiliki arti yang berbeda dengan "uang".

Setelah saya cari informasinya, ternyata benar, kata "duit" tidak bisa digunakan untuk mengganti kata "uang". Lantas mana yang benar? "Duit" atau "uang"?

Seperti biasa, mari kita bahas sejarahnya agar kita bisa menelaah perbedaan dari kedua kata tersebut.

Kata "duit" pertama kali muncul di Nusantara pada abad 17. Ya, tepat pada saat Belanda pertama kali menjajah Indonesia. Apa relasi antara Belanda dan kata "duit"?

Kata "duit" ternyata berawal dari kata "Doit". "Doit" sendiri adalah mata uang receh Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Ya, Doit berupa kepingan logam yang nilainya paling kecil ketimbang mata uang lainnya. Delapan Doit bernilai 1 Stoiver (Stoiver merupakan mata uang Belanda yang nilainya lebih tinggi ketimbang Doit), dan 20 Stoiver bernilai 1 Guiden (Guiden adalah mata uang Belanda yang nilainya lebih tinggi ketimbang Stoiver). Apabila digambarkan, beginilah penjelasannya:

1 Guiden = 20 Stoiver
1 Stoiver = 8 Doit
1 Doit = 1 Rupiah

Terbayang bukan, betapa kecilnya nilai Doit ini?

Lantas mengapa kita lebih mengenal kata "Doit"? Mengapa bukan Stoiver ata Guiden saja yang nilainya lebih tinggi?

Tentu, hal ini ada hubungannya dengan pekerjaan rakyat Nusantara saat itu. Rakyat Nusantara yang bekerja entah itu petani maupun pegawai Belanda digaji menggunakan mata uang Doit. Awalnya mata uang ini dikirim dari Belanda ke Nusantara secara kontinyu untuk membiayai pekerja Indonesia. Hanya saja karena masalah lamanya pengiriman dan tingginya biaya transportasi, akhirnya Belanda memutuskan untuk mendirikan pabrik pembuatan Doit di Batavia (sekarang Jakarta) dan Soerabaja (sekarang Surabaya).

Setelah mendirikan pabrik pembuatan Doit tersebut, Doit semakin menyebar di kalangan rakyat Nusantara. Seiring berjalannya waktu, kata "Doit" ini semakin melebur di lidah rakyat Nusantara menjadi "Duit".

Mata uang Doit telah menyebar dengan baik di seluruh nusantara. Bahkan banyak yang menganggap bahwa Doit akan dijadikan mata uang Nusantara. Ternyata pada tahun 1945 ditetapkanlah Rupiah sebagai mata uang baku milik Indonesia.

Namun karena kebiasaan, masyarakat Indonesia yang sudah memiliki mata uang sendiri itu malah lebih sering menyebut "uang" dengan kata "duit". Padahal mata uangnya sudah berganti menjadi Rupiah.

Lama-kelamaan kata "Duit" ini membaur lagi di telinga masyarakat Indonesia. Bahkan kata "Duit" dijadikan kata serapan di beberapa Bahasa Daerah dan diperbolehkan untuk menggunakannya sampai saat ini.

Dalam kaidah Ejaan Yang Disempurnakan, tentu saja kata "duit" ini tidak boleh digunakan. Tetapi kalau dalam pembicaraan nonformal alias menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari, tentu sah-sah saja.

Jadi, Anda lebih suka menggunakan kata "uang" atau "duit"?

0 comments:

Post a Comment

Ada tambahan? Atau ada sanggahan? Silakan utarakan :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Sumber Inspirasi. Theme images by AndrzejStajer. Powered by Blogger.