Be Inspired!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Thursday, October 17, 2013

Asal Mula Kata “Duit”



Di Indonesia, banyak orang mengganti kata "uang" menjadi "duit". Tentu awalnya saya merasa biasa saja. Tapi saya sedikit bingung ketika membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ternyata, kata "duit" memiliki arti yang berbeda dengan "uang".

Setelah saya cari informasinya, ternyata benar, kata "duit" tidak bisa digunakan untuk mengganti kata "uang". Lantas mana yang benar? "Duit" atau "uang"?

Seperti biasa, mari kita bahas sejarahnya agar kita bisa menelaah perbedaan dari kedua kata tersebut.

Kata "duit" pertama kali muncul di Nusantara pada abad 17. Ya, tepat pada saat Belanda pertama kali menjajah Indonesia. Apa relasi antara Belanda dan kata "duit"?

Kata "duit" ternyata berawal dari kata "Duit" (Dilafalkan dengan kata 'Doit'). "Duit" sendiri adalah mata uang receh Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Ya, Duit berupa kepingan logam yang nilainya paling kecil ketimbang mata uang lainnya. Delapan Duit bernilai 1 Stuiver (Stuiver merupakan mata uang Belanda yang nilainya lebih tinggi ketimbang Duit), dan 20 Stuiver bernilai 1 Gulden (Gulden adalah mata uang Belanda yang nilainya lebih tinggi ketimbang Stuiver). Apabila digambarkan, beginilah penjelasannya:

1 Gulden = 20 Stuiver
1 Stuiver = 8 Duit
1 Duit = 1 Rupiah

Terbayang bukan, betapa kecilnya nilai Duit ini?

Lantas mengapa kita lebih mengenal kata "Duit"? Mengapa bukan Stuiver ata Gulden saja yang nilainya lebih tinggi?

Tentu, hal ini ada hubungannya dengan pekerjaan rakyat Nusantara saat itu. Rakyat Nusantara yang bekerja entah itu petani maupun pegawai Belanda digaji menggunakan mata uang Doit. Awalnya mata uang ini dikirim dari Belanda ke Nusantara secara kontinyu untuk membiayai pekerja Indonesia. Hanya saja karena masalah lamanya pengiriman dan tingginya biaya transportasi, akhirnya Belanda memutuskan untuk mendirikan pabrik pembuatan Duit di Batavia (sekarang Jakarta) dan Soerabaja (sekarang Surabaya).

Setelah mendirikan pabrik pembuatan Duit tersebut, Duit semakin menyebar di kalangan rakyat Nusantara. Seiring berjalannya waktu, kata "Duit" yang dilafalkan "Doit" ini semakin melebur di lidah rakyat Nusantara menjadi "Duit".

Mata uang Duit telah menyebar dengan baik di seluruh nusantara. Bahkan banyak yang menganggap bahwa Duit akan dijadikan mata uang Nusantara. Ternyata pada tahun 1945 ditetapkanlah Rupiah sebagai mata uang baku milik Indonesia.

Namun karena kebiasaan, masyarakat Indonesia yang sudah memiliki mata uang sendiri itu malah lebih sering menyebut "uang" dengan kata "duit". Padahal mata uangnya sudah berganti menjadi Rupiah.

Lama-kelamaan kata "Duit" ini membaur lagi di telinga masyarakat Indonesia. Bahkan kata "Duit" dijadikan kata serapan di beberapa Bahasa Daerah dan diperbolehkan untuk menggunakannya sampai saat ini.

Dalam kaidah Ejaan Yang Disempurnakan, tentu saja kata "duit" ini tidak boleh digunakan. Tetapi kalau dalam pembicaraan nonformal alias menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari, tentu sah-sah saja.

Jadi, Anda lebih suka menggunakan kata "uang" atau "duit"?

2 comments:

  1. Guiden, stoiver dan doit ?
    Salah ejaan !
    Silahkan check and double check sebelum membuat artikel yg bersifat memberi informasi/pelajaran.
    Ejaan yg benar :
    Gulden, stuiver dan duit !

    Duit ejaan Belanda sama dgn ejaan Indonesia tetapi pronunciation-nya tentu saja berbeda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah saya perbaiki tulisan di atas. Terimakasih koreksinya, saya sadari saya masih jauh dari sempurna.. salam :)

      Delete

Ada tambahan? Atau ada sanggahan? Silakan utarakan :)